Senin, 07 Maret 2016

Penerapan Sistem Mata Uang Tunggal ASEAN
Oleh :
Agus Cipto
02011181320181
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Abstrak
            ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara adalah organisasi kawasan yang mewadahi kerja sama antar negara di Asia Tenggara sejak tahun 1967. Masyarakat dikawasan Asia Tenggara yang mempunyai keinginan untuk melakukan kerjasama tersebut sehingga didirikanlah yang namanya ASEAN  sebagai wadah perhimpunan bangsa-bangsa masyarakat dikawasan asia tenggara untuk dapat melakukan kerja sama terutama dalam bidang perekonomian, yang mana negara maju lebih banyak menjadi produsen karena produktifitas barang maupun jasa lebih mencukupi sedangkan negara yang minim tingkat produksinya maka dalam hal ini akan lebih banyak menjadi konsumen disbanding dengan menjadi produsen. Adapun permasalahan yang akan terjadi ketika wacana mengenai penerapan sistem mata uang tunggal di ASEAN ini sendiri akan banyak mengalami perubahan serta menjadi polemik untuk pelaksanannya karena belum dapat dipastikan yang akan diterapkan untuk mata uang tunggal itu sendiri. Dengan demikian, Indonesia sendiri harus lebih mempersiapkan diri dalam menyambut MEA 2015 terkait dengan pertumbuhan ekonmi dalam negeri memperbaiki produktifitas barang maupun jasa agar Indonesia lebih banyak menjadi produsen disbanding menjadi konsumen.
Kata Kunci :ASEAN, Mata Uang Tunggal, Indonesia  


Abstract
            ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) or the Association of Southeast Asian Nations is a regional organization that embodies cooperation among countries in Southeast Asia since 1967. People Southeast Asian region who have a desire to cooperate so that established the name of ASEAN as a container association the nations of the public area of ​​south east asia to be able to work together, especially in the economic field, in which the developed countries more into a producer because the productivity of goods and services is sufficient, while countries that minimal level of production then in this case will be more into the consumer compared with being manufacturers. As for problems that will occur when the discourse concerning the application of the single currency system in ASEAN itself will be many changes and being debated for its implementation because it has not been established that will be applied to the single currency itself. Thus, Indonesia itself must better prepare themselves to welcome AEC 2015 associated with the growth of domestic ekonmi improve the productivity of goods and services so that Indonesia be more than the producers into consumers.
Keywords: ASEAN, Single Currency, Indonesia

A. Pendahuluan
            Dewasa ini perkembangan serta pertumbuhan ekonomi secara nasional maupun global telah banyak mengalami perubahan. Dan hal tersebut tentu banyak yang mendorong agar terjadinya perbaikan ekonomi secara global, yang mana dalam praktik internasional telah terbentuk yang namanya ASEAN yang juga bergerak dibidang perekonomian dalam menuju masyarakat ekonomi asean (MEA).
            Adapun yang menarik untuk kita kaji disini adalah ketika ada wacana untuk menerapkan mata uang tunggal asean, tentu kita akan bertanya-tanya mata uang apa yang nantinya digunakan dalam hal praktik perniagaan dalam MEA tersebut. Apabila kita melihat posisi Indonesia saat ini terkait dengan perekonomian yang terjadi saat ini, tentu kita akan mempertimbangkan tentang kesiapan Indonesia dalam menuju MEA tersebut.
            Penerapan mata uang bersama (single/common currency) negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) belum akan terwujud dalam waktu dekat. Padahal, dalam rumusan awal cetak biru pengembangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, penyatuan mata uang negara-negara ASEAN menjadi mata uang tunggal sebenarnya jadi salah satu tujuan.[1] Dari pernyataan tersebut sudah jelas bahwasanya akan mengalami kesulitan apabila ingin menerapkan mata uang tunggal tersebut yang jelas tidak ada tolok ukurnya terkait dengan mata uang negara mana yang hendak digunakan dalam MEA tersebut.
            ASEAN percaya, penerapan mata uang bersama bakal meningkatkan efisiensi perdagangan dengan berkurangnya biaya transaksi. Mata uang tunggal juga  mendongkrak transparansi harga sehingga ada peningkatan aktivitas perekonomian di negara-negara ASEAN. Makanya, rumusan awal proyek MEA sebetulnya bernama ASEAN Economic and Currency Community (AECC) atau Masyarakat Ekonomi dan Mata Uang ASEAN. Cuma, dalam perkembangannya ASEAN menyadari penyatuan mata uang tunggal butuh waktu lebih lama. Alhasil, rencana pembentukan mata uang tunggal jadi program jangka panjang serta dipisahkan dari rencana MEA. Apalagi, setelah melihat krisis ekonomi yang terjadi di negara Zona Euro, ASEAN makin tak yakin dengan rencana pembentukan mata uang bersama. Le Luong Minh, Sekretaris Jenderal ASEAN menyatakan, setelah melihat pengalaman euro, tak layak rasanya meneruskan skenario mata uang tunggal ASEAN. Meski common currency mendorong penyatuan ekonomi dan juga sebaliknya, ASEAN menilai MEA tidak harus berujung pada penyatuan mata uang.
            Adapun menurut A. Tony Prasetiantono,  Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada (UGM), penyatuan mata uang memang memiliki manfaat berupa peningkatan efisiensi perekonomian negara anggotanya. Efisiensi muncul dari berkurangnya biaya transaksi perdagangan antarnegara anggota, melalui hilangnya ongkos transaksi mata uang sekaligus risiko nilai tukar yang biasanya mengikuti transaksi perdagangan. 
            Selain itu, penerapan mata uang tunggal juga akan meningkatkan transparansi harga produk yang dihasilkan oleh negara-negara di kawasan mata uang tunggal. Pada kasus zona Euro, penurunan ongkos transaksi yang terjadi mencapai 0,25%–0,5% dari total produk domestik bruto (PDB) masing-masing negara Euro. Stabilitas harga tercipta dan kesejahteraan ekonomi negara meningkat. “Ini akan sangat terasa di sektor pariwisata,” yang diutarakan oleh Tony melalui media elektronik.  Akan tetapi, Asia Tenggara punya kondisi yang berbeda dengan Eropa. Sekilas, terkait dengan kondisi ASEAN dan Euro seperti mirip karena kedua wilayah sama-sama berusaha menyatukan diri. Sebelum melebur menjadi Uni Eropa, negara-negara di Benua Biru membentuk Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Tetapi, negara-negara Eropa juga bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).  Oleh karena itulah, secara ekonomi dan pertahanan Eropa sudah bersatu, maka pembentukan Uni Eropa lebih mudah.            Adapun menurut Muliadi Widjaja, pengamat ekonomi Universitas Indonesia yang mengatakan bahwasanya Eropa juga relatif lebih homogen dari sisi budaya dan agama. Adapun yang tidak kalah pentingnya terkait dengan  mayoritas negara Eropa berada dalam satu benua. Nah, karena ada dalam satu daratan besar, ini memudahkan pergerakan aktivitas perdagangan antarnegara. Itu sebabnya, efek yang diharapkan dari penyatuan mata uang berupa turunnya ongkos transaksi menjadi terasa. Sebaliknya, empat dari lima negara besar ASEAN adalah negara kepulauan yang dipisahkan lautan.  Tentu, ini memiliki konsekuensi ongkos transaksi. Karena itu, yang harus dilakukan justru membantu kelancaran perdagangan dengan peningkatan servis pelabuhan dan infrastruktur, misalnya. “La, perdagangan antarpulau di Indonesia Barat dan Timur saja masih susah,” ujar Muliadi. 
            Pro kontra terkait dengan penerapan sistem mata uang tunggal ini sendiri  mensyaratkan penerapan kebijakan moneter secara kolektif. Oleh karena itu, menurut Tony perlu adanya Bank sentral ASEAN. Sehubungan dengan itu, konsekuensinya tak cuma dana, juga hilangnya fungsi pengelolaan kebijakan moneter di setiap negara anggota. Akibatnya pemerintah tidak lagi punya instrumen kebijakan untuk menstimulasi atau melakukan kontraksi perekonomiannya secara individual.  Meski begitu, bukan berarti wacana penyatuan mata uang menjadi tertutup. Salah satunya, dengan menggunakan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan antarnegara ASEAN. Peter Jacobs, Direktur Departemen Komunikasi BI, mengatakan, mekanisme tersedia dalam perjanjian bilateral mata uang atau bilateral currency swap arrangement (BCSA).  Saat ini, BI sudah meneken BCSA dengan bank sentral Korea Selatan untuk mempromosikan perdagangan kedua negara sekaligus memperkuat kerjasama keuangan. Perjanjian itu bisa mengurangi risiko valuta asing lain yang dialami pelaku usaha kedua negara. Hanya ada satu negara yang dapat melakukannya yakni Jepang pernah mengusulkan pembentukan Asian Monetary Unit (AMU), mirip European Currency Unit (ECU), cikal bakal euro. Tapi, usulan ini tak menuai sambutan yang memuaskan. Tony menilai, ASEAN common currency baru terbentuk 25 tahun lagi.
              Adapun pihak lain yang memberikan pernyataan terkait dengan penerapan sistem mata uang tunggal ini sendiri yaitu  Menteri Keuangan Chatib Basri yang menilai penerapan mata uang tunggal takkan mudah karena menyangkut kepentingan beberapa negara termasuk Indonesia.[2] Dari permasalahan diatas, tentu dapat kita berikan rumusan masalah sebagai batasan pembahasan tulisan ini terkait dengan bagaiamana strategi Indonesia menghadapi sistem penerapan mata uang tunggal di ASEAN serta bagaimana sistem penerapannya. Oleh karena itulah tulisan  ini menarik untuk kita kaji terkait dengan kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
B. Pembahasan
    B.1. Strategi Indonesia Menghadapi Sistem Mata Uang Tunggal ASEAN
            Karakteristik pertumbuhan ekonomi modern sangat berkaitan erat dengan peranan negara-negara maju, dimana timbul kecenderungan dari negara-negara kaya untuk terus melakukan ekspansi ekonomi ke negara-negara lain dalam rangka memperoleh sumber pasokan produk primer dan bahan baku, tenaga kerja yang murah dan lokasi pemasaran yang menguntungkan bagi produk-produk mereka. Ekspansi ekonomi ini tentunya berpengaruh besar terhadap terintegrasinya model-model perekonomian dunia dalam bentuk globalisasi ekonomi, yang berdampak pada peningkatan aktivitas transaksi barang dan modal antar negara, sehingga tidak ada lagi negara yang tidak mempunyai hubungan ekonomi dan keuangan dengan negara lainnya.
            Globalisasi ekonomi telah merubah struktur perekonomian dunia secara fundamental. Demikian pula halnya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dewasa ini ASEAN tumbuh sebagai wadah integrasi ekonomi dengan pasar potensial, yang pengaruhnya berdampak pada peningkatan kerjasama ekonomi yang semakin luas terutama dengan negara-negara di kawasan Asia Timur seperti China, Jepang dan Korea Selatan.
            Integrasi ekonomi ASEAN menghadapi tantangan besar karena negara-negara ASEAN memiliki sistem ekonomi, pendapatan per kapita, tingkat pembangunan ekonomi dan institusi serta kondisi sosial yang berbeda dan heterogen. Perbedaan dan heterogenitas menyebabkan beberapa negara yang tidak memiliki infrastruktur dan kapasitas institusional yang memadai mengalami kesulitan untuk berintegrasi dengan negara yang lain. Salah satu kondisi yang berbeda dan heterogen adalah mata uang. Implikasi dari hal ini adalah, munculah wacana pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang merupakan visi ASEAN 2020. MEA bertujuan untuk membentuk suatu pasar tunggal, yang diarahkan pada penerapan mata uang tunggal (single currency) yang bertujuan untuk menjaga stabilitas mata uang regional dalam pelaksanaan pasar tunggal di ASEAN, yang rencananya akan dimulai pada 2015.
            Rencana munculnya mata uang tunggal tersebut tercetus dalam sebuah sebuah ASEAN Community yang sudah disepakati menjadi ASEAN vision 2020. ASEAN Community sendiri yang dimaksudkan akan dibangun berdasarkan tiga pilar, yakni ASEAN Security Community (ASC), ASEAN Economic Community (AEC) dan ASEAN Socio-Cultur Community (ASCC). Integrasi ekonomi di sebuah kawasan pada dasarnya tidak perlu selalu berujung pada penerapan mata uang tunggal di kawasan yang bersangkutan. Harmonisasi kebijakan perdagangan dan koordinasi kebijakan perekonomian dalam sebuah kawasan dapat dilakukan tanpa hadirnya mata uang tunggal. Secara ideal, penerapan mata uang tunggal hanya akan menjadi relevan jika kawasan yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat yang digariskan oleh teori kawasan mata uang tunggal optimum (optimum currency area/OCA); yang meliputi kecukupan prakondisi politik dan standard kriteria ekonomi tertentu, yang akan dibahas kemudian dalam tulisan ini. Namun karena pentingnya kepastian nilai tukar dalam perekonomian global menyebabkan kebutuhan integrasi ekonomi tidak lagi hanya berupa integrasi perdagangan namun berkembang menjadi integrasi keuangan. Integrasi keuangan secara penuh terjadi pada saat masing-masing negara dalam kawasan tersebut telah menghadapi kebijakan yang sama dalam keuangan (single set of rules), di mana investor dan penerbit aset keuangan mempunyai akses yang sama terhadap pasar keuangan (equal access) dan diperlakukan secara sama (treated equally) ketika beroperasi di sektor keuangan (Baele et al. 2004).
            Usulan mata uang tunggal ini sesungguhnya sangat menguntungkan para investor di negara kaya, yang cemas terhadap fluktuasi kurs tukar, namun negara berkembang yang tidak punya produk dan jasa unggulan, juga harus waspada tetap waspada dengan penerapan mata uang tunggal. Negara dengan produktivitas lemah akan selalu menjadi negara konsumen tanpa pernah bisa menjual barangnya akibat tingkat harga yang tinggi. Dengan adanya mata uang yang stabil, perekonomian para anggota ASEAN diharapkan akan menjadi lebih mapan, yang berarti dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi anggotanya. Idealnya, penerapan mata uang tunggal hanya akan relevan jika kawasan yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat yang digariskan oleh teori kawasan mata uang tunggal optimum (optimum currency area/OCA); yang meliputi kecukupan prakondisi politik dan standar kriteria ekonomi tertentu.
            Ada beberapa manfaat yang mungkin dapat diperoleh bagi negara-negara ASEAN, sehubungan dengan penerapan mata uang tunggal (single currency) di ASEAN, yang rencananya akan dimulai pada 2015, yaitu : Melalui penetapan mata uang tunggal, diharapkan agar anggota ASEAN dan SDM di dalamnya dapat lebih efektif dan efisien dalam meningkatan perekonomian anggotanya, yang indikasinya tercermin melalui (i) berkurangnya biaya transaksi perdagangan antar negara anggota melalui hilangnya ongkos transaksi mata uang dan risiko nilai tukar yang umumnya mengikuti proses pembayaran dalam transaksi perdagangan antar negara, (ii) meningkatnya transparansi harga dari sebuah produk yang dihasilkan oleh Negara-negara berbeda yang ada di kawasan mata uang tunggal yang bersangkutan.
            Keuntungan lain yang juga diperoleh adalah berkurangnya ongkos pengelolaan kebijakan moneter dari negara-negara kawasan mata uang tunggal tersebut. Hal ini terkait dengan terrpusatnya pengelolaan kebijakan moneter untuk setiap negara anggota ASEAN. Di samping itu, penerapan mata uang tunggal juga memberikan kredibilitas dan disiplin pengelolaan kebijakan ekonomi makro bagi negara-negara anggotanya. Diharapkan agar proses penetapan sistem uang tunggal (single currency) tersebut, tidak merujuk pada Uni Eropa sebagai acuan rencana, karena diketahui bahwa struktur ekonomi, politik, dan sosial negara-negara anggota ASEAN tidak sama dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN.
            Acuan dari sistem ini lebih kepada penguatan pasar bersama bagi ASEAN ataupun menjadikan ASEAN sebagai basis produksi untuk berbagai industri.
            Terkait dengan pemberlakuan sistem uang tunggal (single currency) di negara-negara ASEAN, maka  terdapat dua syarat berlakunya mata uang tunggal, : Pertama, sistem ekonominya sejenis dan kedua tingkat perkembangan ekonominya tidak boleh terlalu jauh. Untuk kasus ASEAN, Negara Singapore agak sulit bergabung pada satu mata uang tunggal ASEAN, mengingat tingkat perekonomian Negara Singapore sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lainnya di ASEAN. Income per capita Jepang dan Indonesia terlalu berbeda. Demikian juga negara-negara ASEAN dan Singapore (Singapore income per capitanya sudah tinggi).
            Dari sisi kriteria ekonomi, hambatan utama diterapkannya mata uang tunggal di ASEAN muncul dari tingkat pembangunan ekonomi negara-negara ASEAN yang cenderung tidak seragam. Hambatan yang lebih besar muncul dari sisi pra-kondisi politik yang berkaitan dengan kesiapan negara-negara anggota ASEAN untuk membentuk sebuah institusi trans-nasional yang memiliki kredibilitas cukup untuk mendukung komitmen negara-negara anggota dalam mempertahankan keberadaan mata uang tunggal. Kedua, upaya untuk membentuk kawasan mata uang tunggal di ASEAN juga perlu didukung oleh persyaratan-persyaratan yang mengikat bagi anggotanya untuk bekerja sama secara transparan dalam pertukaran informasi tentang perkembangan ekonominya masing-masing.
            Apabila ASEAN telah menetapakan sistem mata uang tunggal, hal ini mengindikasikan bahwa ASEAN telah menetapakan sistem moneter tunggal. Yang merupakan bentuk kerjasama regional yang paling tinggi tingkatannya. Hal ini menjelaskan bahwa ASEAN telah berhasil melaksanakan kerjasama-kerjasama lainnya dengan sukses seperti Free Trade Zone, bebas visa dan fiskal untuk perpindahan penduduk antar negara.
            Semua anggota ASEAN hendaknya memfokuskan pada usaha untuk menjamin stabilitas financial, memperkuat pembangunan infrastruktur regional dan konektivitas, mempromosikan pembangunan berkelanjutan, dan memperkecil kesenjangan pembangunan. Yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan solidaritas komunitas antar masyarakat sekarang.
            Berdasarkan fakta dan data yang diberikan, ASEAN tentunya tidak akan memakai mata uang tunggal dan sistem moneter tunggal untuk beberapa dekade ke depan. Walaupun sebagian pra-kondisi ekonomi untuk pembentukan kawasan mata uang tunggal telah secara berlanjut makin terpenuhi, disparitas tingkat pembangunan ekonomi negara-negara anggota ASEAN sendiri nampaknya masih akan tetap muncul sebagai hambatan. Jika hal ini tetap dipaksakan, maka akan berdampak buruk bagi masing-masing anggotanya, antara lain trafficking akan semakin berkembang pesat antar negara anggota ASEAN. Untuk itulah, sebelum memikirkan bagaimana kita membentuk unifikasi antar anggota ASEAN, maka perlu dilakukan pembenahan ke dalam bagi masing-masing anggota ASEAN. Memperkuat sektor ekonomi domestik, jangan terlalu bergantung kepada pihak luar. Apabila negara-negara ASEAN tersebut sudah cukup mapan, baru kemudian ASEAN dapat membicarakan tentang unifikasi ASEAN, terutama penggunaan mata uang tunggal dan sistem moneter tunggal untuk ASEAN, yang tentunya harus memberikan dampak positif terhadap perkembangan dunia usaha di kawasan Asia Tenggara.[3]
            Asean Economic Community (AEC) yang akan diterapkan pada Desember 2015 menjadi topik pembicaraan yang cukup hangat dikalangan masyarakat Indonesia, Asia Tenggara bahkan dunia akhir-akhir ini. Intensifnya persiapan pemerintah Indonesia dalam menyiapkan segala bentuk menghadapi era pasar bebas Desember mendatang, mulai dari bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja. Pada dasarnya tujuan utama di bentuknya Asean Economic Community (AEC) adalah perwujudan stabilitas perekonomian negara anggota Asia Tenggara, dan juga bentuk upaya mengatasi permasalahan ekonomi yang terjadi antar negara ASEAN. Banyak rencana mengenai bentuk integrasi ekonomi dan keuangan juga mulai di konsep keseluruhan pada pertemuan-pertemuan penting antar negara ASEAN. Bermula pada Konferensi Tingkat Tinggi Asotiation Of Southeast Asian Nations (KTT ASEAN) Oktober 2013, hingga mencapai keputusan final Rabu, 17 Desember 2013 bahwa penyatuan mata uang akan diberlakukan mulai 1 Februari 2014 dengan nama mata uang Southeast Asian Currency (SAC) yang memiliki nilai tukar Rp. 6.350 per 1 SAC, namun hingga sekarang pemberlakuan tersebut belum terlaksana.[4]
            Indonesia sebagai negara yang termasuk dalam sub region ASEAN-3 yang terdiri dari negara Indonesia, Malaysia dan Singapura masih belum mampu mewujudkan mata uang tunggal karena integrasi keuangan yang relatif rendah, berbeda dengan sub region ASEAN-3 yang terdiri dari negara Malaysia, Thailand dan Singapura penerapan mata uang tunggal mampu diwujudkan, karena intergrasi keuangan antar negara tersebut relatif sama dan stabil. Dengan adanya hal tersebut, peran Bank Indonesia dan lembaga keuangan lainnya perlu diintensifkan kembali, optimalisasi terhadap lembaga keuangan makro dan mikro dan perluasan akses lembaga keuangan terhadap masyarakat bawah. Strategi, peran dan upaya lembaga keuangan termasuk Bank Indonesia sangat dibutuhkan dalam upaya perwujudan integrasi keuangan, sehingga penerapan keuangan tunggal mampu terwujud secara komples dan optimal.[5]
            Dengan demikian, dari adanya permasalahan yang telah diuraikan diatas bahwasanya Indonesia harus lebih banyak memperbaiki sistem perekonomian di Indonesia sebelum adanya MEA 2015 yang nantinya semua negara anggota ASEAN dapat dengan mudah melakukan perniagaan Indonesia dan Indonesia sendiri harus mampu meningkatkan produktivitas barang serta mempersiapkan SDM (sumber daya manusia) yang lebih berkualitas guna menjag kestabilan perekonomian di Indonesia.
C. Penutup
            Pergerakan perekonomian dikawasan Asia Tenggara telah banyak mengalami peningkatan karena adanya kerjasama yang terjadi antar negara yang tergabung dalam ASEAN tersebut. Namun, Indonesia sebagai anggota ataupun bagian dari ASEAN itu sendiri sejatinya harus mampu menandingi tingkat perekonomian yang begitu pesat seperti yang terjadi di negara Singapura dan Malaysia, karena hal tersebut juga akan berdampak pada MEA 2015 yang menjadi ajang bagi negara-negara untuk bekerjasama dalam bidang ekonomi yang mana negara maju dalam hal ini akan menjadi dominan sedangkan negara yang masih berkembang akan lebih banyak pada posisinya sebagai konsumen. Apalagi dengan adanya wacana ingin menerapkan sistem mata uang tunggal di ASEAN tentu jika tidak dipersiapkan dengan matang maka dapat diakatakan Indonesia belum siap untuk menghadapi MEA 2015. Oleh karena itulah, Indonesia harus mampu bersaing dengan negara maju dengan cara meningkatkan tingkat produktivitas barang serta mempersiapkan SDM yang berkualitas. Sehubungan dengan itu, Indonesia harus dapat menjaga kualitas barang yang dimiliki Indonesia jangan sampai kualitas barang Indonesia kalah dengan negara Asia Tenggara lainnya.




      [1] Kontan.co.id, Mata uang bersama ASEAN belum akan terwujud, diakses pada tanggal 16 Desember 2015 pukul 11.41 WIB.


                [2] Liputan 6, Mata Uang Tunggal ASEAN, Menkeu : Benahi Dulu Rumah Kita, diakses pada tanggal 16 Desember 2015 pukul 12.05 WIB.
                [3] Ernie Tisnawati Sule salah seorang Guru Besar dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran,  Pengaruh Penerapan Mata Uang Tunggal ASEAN terhadap Dunia Usaha :Sebuah Prediksi, yang diterbitkan oleh inspirasitabloid, diakses pada tanggal 13 Desember 2015 pukul 10.00 WIB.
                [4] Kompasiana, Kemapanan Mata Uang ASEAN, diakses pada tanggal 7 April 2015 pukul 13.43 WIB.
                [5] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar